Sisilain

Dibalik Proses Siaran Langsung di Bali
Logo

Dibalik Proses Siaran Langsung Di Bali

Dibalik Proses Siaran Langsung Di Bali

25 Januari 2022

BRI LIGA 1 2021-2022

Oleh: Hanif Marjuni
(Manajer Media and Public Relation PT LIB)

Salah satu yang menjadi faktor penentu kualitas kompetisi, ada pada kualitas siaran televisi. Pada aspek ini, dianggap vital karena langsung bersentuhan dengan mindset pemirsa. Emosi, empati, pujian sampai dengan maki-makian dari publik, selalu bermula dari sini; siaran televisi.

Sama halnya dengan siaran langsung pada BRI Liga 1 2021/2022. Masyarakat bisa dikatakan kritis. Malah, sangat kritis. Semuanya berharap sempurna. Kala ada yang dirasa kurang pas, sontak dilontarkan ke publik. Di beragam sosial media. 
Tapi, tahukah Anda, menyajikan siaran langsung pertandingan sepak bola Liga 1 musim ini berbeda kesulitannya dengan periode-periode sebelumnya?

Betul. Bahwa semua yang terlibat dalam proses siaryang lebih dari 20 tahun.an pertandingan BRI Liga 1 2021/2022 adalah orang-orang yang berpengalaman. Sebagian personel yang terlibat, rata-rata sudah punya pengalaman di dunia pertelevisian lebih dari 10 tahun. Bahkan, ada 

Betul. Bahwa ketika membangun sebuah stadion, sudah diperhitungkan posisi kamera untuk dilakukannya siaran langsung. Mana lokasi untuk kamera utama, kamera pendukung, hingga penempatan master control.

Betul. Bahwa ketika menentukan venue pertandingan sepak bola sekelas BRI Liga 1 2021/2022, sudah memperhitungkan kapasitas lampu stadion. Ada ukuran tingkat keterangan yang harus dipenuhi. Tanpa kecuali. 

Akan tetapi, fakta dan kondisinya sering berbeda. 
Di lapangan, tantangan yang dihadapi pada penyiaran di setiap pertandingan selalu tak sama. Pada kompetisi BRI Liga 1 2021/2022, perhelatan seri 1, seri 2, seri 3 hingga seri 4, lokasinya berbeda. Kondisi stadion juga tak sama. Selalu butuh adaptasi.

Pada seri 1 BRI Liga 1 2021/2022 digelar di Jabodetabek. Menggunakan stadion Wibawa Mukti (Bekasi), Stadion Indomilk Arena (Tangerang), Stadion Pakansari (Bogor), Stadion Si Jalak Harupat (Bandung) dan Stadion Madya (Jakarta).

Pada Seri 2 dan seri 3 dihelat di Jawa Tengah dan Derah Istimewa Yogyakarta (DIY). Lokasi pertandingan ada di Stadion Sultan Agung (Bantul), Stadion Maguwoharjo (Sleman), Stadion Manahan (Solo), dan Stadion Moch. Soebroto (Magelang).

Sementara seri 4 diputar di Bali. Nah, di sinilah yang harus diperhatikan. Pada seri 1 hingga seri 3, stadion yang dipilih sudah terbiasa untuk siaran langsung pertandingan sepak bola. Itu tak memunculkan banyak masalah. 

Penentuan lokasi 8 kamera, kualitas lampu yang ada di lapangan, sampai dengan ketersediaan internet yang memadai, tak menemui kendala berarti. Relatif aman. Khusus yang satu ini, pecinta sepak bola di tanah air, sudah bisa membuktikannya.

Kondisi itu berbeda dengan seri 4. Dari tiga stadion yang digunakan, hanya stadion I Wayan Dipta, Gianyar yang ‘siap’ untuk dilakukannya siaran langsung. Tanpa perlu banyak pembenahan. 

Sedangkan untuk Stadion I Gusti Ngurah Rai dan Stadion Kompyang Sujana yang keduanya terletak di Denpasar, perlu penambahan fasilitas. Terutama untuk penempatan kamera utama dan kamera yang ada di belakang gawang.

Oh, ya. Komparasi kondisi tiga stadion di atas, dilakukan ketika seri 4 akan dipindah ke Bali. Bukan kondisi teraktual saat ini.  

Bim Salabim.

PT Liga Indonesia Baru (LIB) dan Pemprov Bali (pihak pengelola stadion, red) bergerak cepat. Apa yang dibutuhkan untuk menjaga kualitas siaran televisi dilakukan. 

Di stadion I Gusti Ngurah Rai misalnya. Untuk menopang kamera utama, medio Januari 2022 lalu, dibuatkan steger (scaffolding) dengan ketinggian mencapai 7,5 meter. Itu dimaksudkan untuk menjangkau semua yang ada di lapangan. Dengan kata lain, hasil sudut pandang dari kamera utama, bisa memanjakan mata pemirsa. Semua bisa terekam.

Begitu juga di stadion Kompyang Sujana. Steger untuk kamera utama, sudah dua kali mengalami perubahan. Prinsipnya, ditinggikan. Malah, untuk proses perbaikan kedua yang dilakukan pada akhir Januari 2022, tingginya melebihi atap tribun penonton. Tinggi steger sekitar 15 meter. Itu artinya, saat dilakukan proses peninggian itu, mutlak dilakukan pembongkaran atap terlebih dulu. 

Soal hasil siaran untuk pertandingan yang digelar di Stadion Kompyang Sujana, nanti bisa disaksikan di siaran pertandingan BRI Liga 1 2021/2022 berikutnya. Insya Alllah, lebih memanjakan mata Anda.  

Demikianlah, dulurs.
Selalu dilakukan perbaikan. Termasuk dari kualitas siaran televisi. Perbaikan yang dilakukan tak luput dari kritik dan juga saran dari banyak pihak. Termasuk netizen dan juga, Anda.  

Selamat mengikuti lanjutan seri 4 BRI Liga 1 2021/2022 dari layar kaca televisi. Semoga bisa menikmati siaran pertandingan berkualitas yang memenuhi selera Anda.
Terima kasih.