No Ticket, No Game!

No Ticket, No Game!

21 Agustus 2022

BRI LIGA 1 2022-2023

Oleh: Hanif Marjuni
(Media and PR Manager PT LIB)

Bisa jadi, Anda menganggap judul di atas terkesan absurd. Terlalu berlebihan alias tak sesuai fakta yang ada di lapangan.

Sah-sah saja Anda beranggapan seperti itu. Tapi, tunggu dulu. Anda laik memerhatikan beberapa fakta yang terjadi, belakangan ini.

Pada pra musim lalu, ada beberapa pertandingan yang jumlah penonton di dalam stadion, membludak. Entah itu cuma friendly match atau pra musim resmi, jumlah penonton yang berada di dalam stadion, jauh di atas tiket resmi yang dijual panitia penyelenggara. 

Ini seperti a blessing in disguise.

Satu sisi, semua bungah. Euforia nyetadion, kembali bisa dilakukan. Suporter dengan segala militansi dan kreatifitasnya, bisa muncul ke permukaan. 

Sama halnya dengan penonton yang memang punya keinginan hanya untuk menonton dan menikmati pertandingan. Mereka bisa duduk di tribun yang diinginkan, melihat kemeriahan di dalam stadion dengan segala hingar-bingarnya.

Pada sisi yang lain, membludaknya penonton jelas memunculkan kecemasan tersendiri. Terutama faktor keamanan dan kenyamanan. 

Ada yang tak nyaman lantaran harusnya bisa duduk kemudian hanya bisa berdiri berdesak-desakan. Ada yang merasa tak nyaman karena harusnya mendapatkan akses yang mudah di tribun VIP tapi harus terkendala dengan penonton lain yang tak jelas asal muasalnya.  

Lebih dari itu, membludaknya penonton yang melebihi tiket yang dijual, membuat pihak-pihak tertentu merasa tak aman. Tak aman karena takut jika terjadi pergesekan atau hal lain. Bisa juga, cemas bila tak dapat tempat duduk karena sudah diisi penonton lain.  

Nah, pada perhelatan BRI Liga 1 2022/2023 fenomenanya berbeda. Belajar dari kasus-kasus yang terjadi pada perhelatan pra musim, semua menjadi lebih rapi. Lebih tertata. Lebih terkendali. 

Tidak ada lagi penonton liar yang tak membawa tiket. Dengan kata lain, tidak ada tiket, tidak bisa masuk ke dalam stadion. 

No Ticket, No Game
Dari perjalanan dan pengamatan saya di beberapa stadion yang dipakai untuk perhelatan BRI Liga 1 2022/2023, faktanya seperti itu.

Di Stadion Kanjuruhan, Malang misalnya. Ketika Arema FC menjamu PSIS Semarang pada pekan kedua, Sabtu (30/7), saya mencoba mengamati di sekeliling stadion. Kesigapan panpel setempat pantas diacungi jempol. Hanya penonton yang bertiket yang bisa masuk ke dalam stadion. Panpel Ongis Nade, membagi menjadi beberapa ring pemeriksaan tiket. “Kami pastikan, hanya penonton bertiket yang bisa masuk. Tanpa tiket, jangan harap bisa masuk stadion,” terang media officer Arema FC, Sudarmadji.

Sama halnya di Surabaya. Pada pertandingan Persebaya Surabaya versus Madura United FC pekan ke-4, Minggu (14/8), pemeriksaan di Stadion Gelora Bung Tomo, juga ketat. Ada tiga lapis pemeriksaan. Sama dengan di Malang, hanya penonton yang membawa tiket yang bisa masuk ke dalam ring terdekat stadion. Pemeriksaannya pun, dilakukan satu per satu. “Mas bro, kami ketat. Penonton yang berada di dalam stadion ini, semua bertiket,” terang Sekretaris Tim Persebaya, Ram Surahman.

Di stadion BJ Habibie, Pare-Pare, juga seragam. Sabtu (20/8), pemeriksaan tiket pada laga PSM Makassar versus Arema FC juga sangat ketat. Cuma penonton yang bertiket yang bisa masuk ring kedua. 

“Dari pemantauan kami, sekitar 2 km menuju stadion, semua clear. Hanya bertiket yang bisa menuju stadion,” ujar Galih Purnanda Sakti, venue delegate LIB, Minggu (21/8). “Pada ring yang dekat stadion, kami lakukan pengecekan barcode. Jadi, sangat ketat,“ tambah media officer PSM, Sulaiman Abdul Karim.


 
Animo Tinggi
Pertanyaan logis, terlontar. Kenapa pada pra musim, sempat ada penonton membludak dan ketika BRI Liga 1 2022/2023 bergulir, semua bisa dikendalikan.  

Dari analisa panitia penyelenggara plus pihak pengamanan, penyebab berjubelnya penonton pada pra musim, bisa dikatakan heterogen. 

Pertama, masyarakat sudah rindu ke stadion. Ketika ada pengumuman stadion bisa dihadiri penontn, animo publik sangat tinggi. Apa pun akan dilakukan, selama itu bisa masuk ke dalam stadion.

Keinginan mereka sederhana. Mendukung tim, bergabung dengan rekan-rekan yang lain di dalam stadion, bersorak, bernyanyi bersama dan berharap pulang dengan menyaksikan kemenangan tim yang didukung. Sesimpel itu. 

Ingat, rutinitas tersebut hampir dua tahun tak dilakukan gegara pandemi Covid-19. Jadi, masuk akal jika stadion sesak penonton.

Kedua, pada kasus penonton yang membludak, penjagaan terbilang lemah. Saat diteliti pada hari pertandingan, masih ada juga oknum yang memasukkan penonton dengan mudah. Gampang sekali. Tidak ada yang memfilter dengan ketat. Keteledoran inilah yang bikin penonton yang sudah memegang tiket, malah susah masuk stadion.

Nah, poin ini yang kedua, belakangan benar-benar diperhatikan dan dievaluasi oleh semua klub yang terlibat dalam perhelatan BRI Liga 1 2022/2023. Jauh hari, semua Local Organizing Committee (LOC) melakukan persiapan matang. 

Lebih dari itu, dalam hal ini, LOC juga telah berkomunikasi dengan kepolisian setempat, pemda, dan juga satgas Covid-19. Itu membuat penonton yang datang ke stadion, menjadi lebih rapi, terdata dan terkendali. Baik itu sebelum dan setelah pertandingan. 

Jelas sudah, tak perlu cemas lagi datang ke stadion karena alasan penonton membludak. Apalagi cemas karena tidak dapat tempat duduk.

Selama ada tiket di tangan, Anda aman. Silakan datang ke stadion dengan kawan, bestie, atau keluarga. Bisa juga, datang bersama sosok lain yang membuat anda nyaman dan senang menikmati pertandingan.

Salam sepak bola.